RSS Feed

Review Buku “Prophetic Parenting”

Prophetic Parenting

IDENTITAS BUKU

Judul                    : Prophetic Parenting, Cara Nabi Mendidik Anak
Penulis                 : DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
Penerjemah       : Farid Abdul Aziz Qurusy
Penerbit              : Pro-U Media
Tebal                    : 610 Halaman

 

REVIEW

       Dalam buku ini, diungkapkan bahwa pendidikan bagi anak bermula dari saat kedua orangtua menikah. Hubungan kedua orangtua, kesalehan mereka, dan kesepakatan mereka dalam melakukan kebaikan, memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam membentuk sisi psikis dan kecenderungan bagi si anak. Penulis buku ini mengetengahkan pentingnya pertumbuhan anak di gendongan ibunya, keluarganya, serta pentingnya menjaga nilai-nilai islami dalam masa pertumbuhan anak dan membiasakan anak untuk selalu berpikir. Buku ini juga menekankan tentang pentingnya memakai berbagai media dan alat peraga yang sesuai dengan usia anak.

 

Nasihat Cinta untuk Calon Orangtua

       Pada bab pertama, buku ini membahas mengenai awal dibentuknya sebuah keluarga, yaitu pernikahan, dan juga tujuan dari pernikahan yang islami. Ada satu sub bab yang menyebutkan nasihat-nasihat bagi para calon orangtua. Pada sub bab tersebut, ada 8 karakter pendidik sukses yang disebutkan, yaitu :

  1. Tenang dan tidak terburu-buru
  2. Lembut dan tidak kasar
  3. Hati yang penyayang
  4. Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa
  5. Toleransi
  6. Menjauhkan diri dari marah
  7. Seimbang dan proporsional
  8. Memberi nasihat sebagai selingan

 

Metode Mendidik Anak hingga Usia Dua Tahun

       Bab kedua buku ini membahas mengenai metode mendidik anak hingga usia dua tahun. Pada saat proses kelahiran, orangtua diharapkan dapat berdoa dan berzikir demi keselamatan sang anak. Dalam bab ini juga disebutkan perlunya pendidikan bagi bayi pada hari pertama kelahirannya. Pendidikan dapat diberikan dengan membayar zakat fitrah, pemberian harta waris, pemberitahuan dan ucapan selamat atas kelahiran si bayi, azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, doa dan syukur pada Allah, dan menyuapi bayi dengan kurma. Kemudian, pendidikan awal si bayi dilanjutkan pada hari ketujuh kelahirannya, dimana orangtua diharapkan dapat melakukan beberapa hal seperti: memberikan nama bayi, mencukur rambut bayi, aqiqah, dan khitan/sunat. Mendidik bayi juga dapat dilakukan dengan menyusui dan menyapih. Ibu wajib menyusui bayinya yang membutuhkan sentuhan di dadanya, agar si bayi menemukan kebahagiaan, ketentraman, dan gizi yang cukup dari air susu ibunya yang juga disertai dengan kasih sayang.

 

Metode Mendidik Anak ala Nabi

       Bab selanjutnya membahas tentang metode nabi dalam mendidik anak. Pertama, menampilkan suri tauladan yang baik. Orangtua wajib memperhatikan tingkah lakunya, karena mayoritas yang ditiru oleh anak berasal dari kedua orangtuanya. Apabila mereka melihat kedua orangtua berperilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran, demikian seterusnya. Kedua, mencari waktu yang tepat untuk memberi peringatan. Hal ini dikarenakan sewaktu-waktu anak bisa menerima nasihat, namun terkadang juga pada waktu yang lain anak justru menolak keras. Apabila orangtua sanggup mengarahkan si anak untuk menerimanya, pengarahan yang diberikan akan memperoleh keberhasilan dalam upaya pendidikan. Ketiga, bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak. Hal ini bertujuan agar si anak tidak menganggap orangtuanya lebih condong kepada saudaranya, sehingga diharapkan si anak tidak berubah menjadi liar dan penuh kedengkian.

       Keempat, menunaikan hak anak, sehingga dapat menumbuhkan perasaan positif dalam diri anak dan mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya menerima, namun juga memberi. Selain itu, anak juga dapat dilatih untuk tunduk kepada kebenaran, dan tidak menjadi orang yang tertutup dan dingin. Kelima, membelikan mainan untuk anak. Maksudnya disini adalah secara seimbang dan tidak berlebihan. Disebutkan bahwa Rasulullah pernah mengakui bahwa mainan memiliki arti penting bagi anak-anak dan adanya kecintaan mereka pada benda-benda kecil yang berbentuk dan memiliki rupa. Orangtua seharusnya dapat membeli mainan untuk anak mereka sesuai dengan usia dan kemampuan si anak. Tujuannya agar pikiran dan indera anak dapat terangsang dan tumbuh berkembang sedikit demi sedikit. Keenam, membantu anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaatan. Tujuannya untuk mendorong si anak agar selalu menurut dan mengerjakan perintah, serta mendorong anak agar berinisiatif menjadi orang terpuji. Dengan begitu, anak dapat terdorong untuk meraih kesuksesan. Dan terakhir, tidak suka marah dan mencela. Metode tersebut digunakan untuk menumbuhkan perhatian mendalam dan rasa malu pada diri si anak. Jika orangtua sering mencela anak, ditakutkan si anak justru akan memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela sehingga mereka tidak lagi merasa sungkan untuk melakukan perbuatan tercela.

           

Mempengaruhi Akal Anak

       Selanjutnya, pembahasan diteruskan pada cara-cara mempengaruhi akal anak agar si anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan tetap memegang nilai-nilai kebaikan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua, seperti:

-Menceritakan Kisah-Kisah

Kisah-kisah memainkan peranan penting dalam menarik perhatian anak dan membangun pola pikirnya. Bahkan kisah menempati peringkat pertama sebagai landasan asasi metode pemikiran yang memberikan dampak positif pada akal anak. Kisah-kisah kenabian sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak, karena menanamkan kepercayaan akan sejarah serta rasa keislaman pada diri anak. Salah satu kisah yang sangat dianjurkan untuk dibagikan kepada anak adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar.

-Berdialog Langsung ke Inti Persoalan

Dialog dengan anak sebaiknya dilakukan secara langsung dengan kalimat yang jelas. Kalimat ambigu sama sekali tidak berguna dalam berdialog dengan anak-anak. Hal ini sesuai dengan tabiat pemikiran anak yang menuntut kalimat-kalimat singkat dan jelas.

-Berbicara sesuai Kadar Akal Anak

Anak-anak memiliki keterbatasan, yaitu akal dan pikirannya yang masil dalam masa pertumbuhan. Pengetahuan kedua orangtua dan guru tentang tingkatan pertumbuhan akal anak akan memudahkan mereka dala memberikan solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi anak. Orangtua akan mengetahui kapan harus berbicara dengan anak, kalimat apa yang harus digunakan, dan pola pikir apa yang akan diungkapkan.

-Tanya-Jawab

Metode tanya-jawab dapat merangsang pertumbuhan akal anak dan meluaskan wawasannya, serta menambah semangat anak untuk menyingkap berbagai inti permasalahan dan esensi dari berbagai kejadian sehari-hari. Dengan tanya-jawab, anak dapat mengungkapkan apa yang terlintas dalam benaknya, dan bertanya tentang berbagai hal yang belum dia ketahui. Selain itu, pikiran anak juga dapat menjadi lebih terbuka sehingga mampu ikut serta dalam diskusi orang dewasa.

-Melatih Anak dengan Beraktivitas

Aktivitas akan melatih indera anak sehingga menghasilkan pengetahuan. Ketika si anak mulai tumbuh dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan, hal tersebut dapat merangsang kesadaran akalnya sehingga dia dapat mengamati bagaimana cara melatih inderanya dan meniru pekerjaan tersebut. Dengan cara itulah si anak dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan mempelajarinya setahap demi setahap. Pada akhirnya, pekerjaan tersebut dapat membuka wawasan anak dan memperdalam pengetahuannya.

-Mengarahkan Anak untuk Meneladani Rasulullah

Keterikatan seoran ganak kepada Rasulullah membuatnya menjadi manusia yang sempurna. Karena pikirannya menjadi terbuka untuk mempelajari jalan hidup pemimpin para rasul, pemimpin seluruh umat manusia, dan kekasih Allah. Selain itu, akal anak juga akan dipenuhi oleh keimanan. Orangtua cukup menceritakan di hadapan anak-anak mengenai sejarah beliau, akhlak beliau, dan berbagai pertempuran yang pernah beliau hadapi, dalam rangka memupuk rasa cinta kepada Nabi sehingga mereka berusaha untuk meneladani dan mencontoh perilaku beliau.

 

Mempengaruhi Jiwa Anak

       Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

-Berteman dengan Anak

Pertemanan memainkan peranan penting dalam memberikan pengaruh pada jiwa anak. Seseorang adalah cerminan dari temannya, karena mereka saling belajar satu sama lain. Berteman dengan anak dilakukan karena termasuk hak anak untuk berteman dengan orang dewasa untuk belajar dari mereka, agar dirinya tertata, akalnya terlatih, dan kebiasaannya menjadi baik

-Menanamkan Kegembiraan pada Anak

Anak-anak sangat menyukai kegembiraan. Kegembiraan memberikan dampak positif pada jiwa anak, berupa kebebasan dan kehidupan bagi jiwa, juga menjadikannya siap untuk menerima perintah, anjuran, dan pengarahan. Rasulullah sendiri memiliki beberapa cara untuk memberi kebahagiaan pada anak, diantaranya adalah: menyambut kedatangan mereka, mencium dan bercanda, mengusap kepala, menggendong dan menimang, memberikan makanan, dan makan bersama mereka.

-Mengadakan Perlombaan dan Memberikan Hadiah bagi Pemenang

Perlombaan dan kompetisi secara umum dapat menggerakkan semangat manusia, apalagi bagi anak-anak yang memiliki perasaan dan kemampuan terpendam yang tidak diketahui dan hanya dapat diketahui ketika dirinya dihadapkan dengan orang lain yang harus dikalahkan secara kompetitif. Perlombaan dan kompetisi adalah suatu metodi untuk memberikan kegiatan, mengarahkan bakat dan kecenderungan anak. Selain itu, manfaat lain metode ini adalah menumbuhkan jiwa bermasyarakat dan menjauhkan anak dari kesendirian. Anak akan berlatih untuk memahami bahwa dalam kehidupan ada kalanya menang dan di waktu lain kalah. Metode ini perlu diterapkan pada saat yang tepat dan memberikan hadiah bagi pemenang.

-Memotivasi dan Mendukung Potensi Anak

Orangtua sebaikanya memberikan motivasi kepada anak-anak mereka, dan diantara dukungan yang baik adalah mendukung anak untuk melakukan perbuatan baik, misalkan membaca dan mengumpulkan buku. Anak yang mendapat motivasi dan dukungan atas apa yang dilakukannya, cenderung akan berusaha meningkatkan kemampuan mereka dalam hal tersebut.

-Memberikan Pujian dan Sanjungan

Pujian dan sanjungan dapat menggerakkan perasaan anak, sehingga dia dapat memperbaiki perilaku dan perbuatannya. Hati si anak akan merasa senang mendengar pujian dan akan terus melakukan perbuatan yang terpuji.

-Bermain bersama Anak

Bermain bersama anak dapat membantunya untuk mengungkapkan segala pikiran dan perasaan yang dia pendam. Orangtua yang sering bermain bersama anak akan lebih dekat secara psikologis dengan anak mereka, sehingga si anak pun merasa nyaman untuk bersikap terbuka dan berbagi segala permasalahan yang dia hadapi. Dengan begitu, orangtua pun akan lebih mudah untuk memberi bantuan dan mengarahkan si anak menjadi pribadi yang lebih baik.

-Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Ada 4 metode yang dapat digunakan, yaitu: menguatkan keinginan anak (membiasakannya menyimpan rahasia dan berpuasa), membangun kepercayaan sosial, membangun kepercayaan ilmiah, dan membangun kepercayaan financial.

-Panggilan yang Baik

Ini dilakukan untuk menarik perhatian anak dan membuatnya siap untuk menerima pembicaraan. Memanggil anak kecil dengan beragam panggilan menjadikannya merasa dianggap penting di tengah orang-orang dewasa. Shingga si anak akan lebih mudah menurut dan mengerjakan segala perintah dengan kegembiraan.

-Mengabulkan Keinginan dan Mengarahkan Bakat Anak

Semakin muda usia anak, semakin harus dikabulkan keinginannya. Hal tersebut disebabkan karena anak merasa bahwa apa yang dia minta, itulah yang dia butuhkan. Apabila tidak dikabulkan, dia akan kesal dan marah serta melakukan hal-hal yang tidak baik atau tidak layak.

-Melakukan Pengulangan Perintah

Pengulangan perintah perlu dilakukan agar berpengaruh pada jiwa anak, sehingga si anak menuruti dan melaksanakan perintah. Agar anak menjadi terbiasa, orangtua harus mengulang perintah lebih dari satu kali karena si anak pasti akan melakukan kesalahan. Ketika si anak melihat dan mendengar sesuatu lebih dari satu kali, dia akan belajar dan menjadi terbiasa dengan hal tersebut.

-Bertahap dalam Menanamkan Pendidikan

Pada subbab ini lebih ditekankan kepada pendidikan shalat. Tahap pertama, yaitu tahap menyaksikan, dimulai dari pertama kali si anak dapat berjalan dan berbicara, hingga usia tujuh tahun. Tahap kedua, yaitu tahap perintah, dari usia tujuh tahun hingga usia sepuluh tahun. Tahap ketiga, yaitu tahap hukuman, dari usia sepuluh tahun sampai seterusnya, dimana orangtua dibolehkan untuk memukul si anak jika tidak mengerjakan shalat.

-Memberikan Janji dan Ancaman

Ancaman yang dimaksudkan disini bukan ancaman yang menakutkan dan membuat jiwa anak merasa ngeri. Melainkan hanya sekadar mengingatkan kepada anak akan imbalan bagi suatu amalan dan hukuman apabila melakukan suatu kesalahan. Rasulullah menggunakannya dalam banyak kesempatan, salah satunya dalam masalah berbakti kepada kedua orangtua. Beliau menganjurkan untuk berbakti kepada kedua orangtua dan memberikan ancaman atas perbuatan durhaka. Hal itu dilakukan beliau agar si anak menurut, terpengaruh, dan jiwa serta perilakunya menjadi baik.

 

Metode Menghukum Anak yang Mendidik

       Dalam buku ini ditekankan bahwa hukuman bukanlah pembalasan dendam kepada si anak, melainkan salah satu metode pendidikan. Selain itu, hukuman tidak dapat diberikan secara semena-mena. Orangtua perlu menjadi efektif dalam mengoreksi kesalahan anak, sehingga hukuman yang diberikan tepat sasaran dan membimbing si anak untuk menjadi lebih baik lagi. Ada tiga inti kesalahan yang mungkin dilakukan anak. Pertama, kesalahan dalam pemahaman. Kedua, kesalahan dalam aplikasi. Ketiga, kesalahan yang sengaja dibuat oleh si anak itu sendiri. Hukuman tidak pantas diberikan pada inti kesalahan yang pertama dan kedua. Bimbinganlah yang lebih pantas untuk diberikan. Sementara untuk inti kesalahan yang ketiga memang dianjurkan pemberian hukuman agar si anak merasa jera dan dapat belajar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah.

       Hukuman yang diberikan juga harus bertahap. Pertama, orangtua memperlihatkan cambuk pada anak. Kedua, orangtua boleh menjewer telinga anak. Dan ketiga, ketika anak telah melakukan kesalahan yang cukup besar, orangtua boleh memukulnya. Namun, dalam memukul anak telah diatur ketentuannya dalam Islam. Orangtua tidak boleh sembarangan memukul. Pukulan harus diberikan dengan cara tertentu, di tempat tertentu, dan tanpa disertai oleh amarah

 

Membentuk Akidah Anak

       Masa kanak-kanak memiliki kelebihan berupa aktif, polos, dan fitrah. Masa ini juga memiliki waktu yang cukup panjang. Sehingga orangtua dapat menanamkan seperangkat nilai ke dalam jiwa anak dan dapat menuntun anak kea rah mana pun yang pendidik kehendaki, serta mengenali kemampuan dan potensi anak di masa depan. Pembentukan masa kanak-kanak yang disertai perhatian yang cukup dan pengarahan yang memadai, maka kepribadian si anak akan menjadi semakin kuat dan kokoh saat menghadapi kesulitan hidup di masa depan.

       Akidah Islam sendiri memiliki ciri khas, yaitu seluruhnya bersifat gaib. Sehingga beberapa orangtua akan kebingungan untuk menyampaikan kepada si anak. Dalam buku ini, disebutkan lima dasar asasi dalam menanamkan akidah pada anak, yaitu: mentalqin anak untuk mengucapkan kalimat tauhid; menanamkan cinta kepada Allah swt.; menanamkan cinta kepada nabi, keluarga beliau, dan para sahabat beliau; mengajarkan Al-Quran kepada anak; dan pendidikan untuk tetap teguh dan rela berkorban demi akidah.

 

Membentuk Jiwa Sosial-Kemasyarakatan Anak

       Yang dimaksud jiwa sosial-kemasyarakatan di sini adalah interaksi anak dengan masyarakat di sekitarnya, baik orang dewasa maupun anak-anak lain, agar si anak dapat bersikap aktif yang positif, jauh dari malu dan sungkan yang tercela. Hal tersebut dapat dipicu dengan beberapa hal, yaitu: mengajak anak dalam majelis orang dewasa; mengutus anak untuk melaksanakan keperluan; membiasakan anak mengucapkan salam; menjenguk anak yang sakit; mencarikan teman yang baik; membiasakan anak berdagang; mengajak anak menghadiri perayaan yang disyariatkan; dan mengajak anak menginap di kerabatnya yang shaleh.

 

Membentuk Akhlak Islami Anak

       Pada bab ini, ditekankan mengenai pentingnya menanamkan adab dan akhlak pada anak. Anak harus benar-benar diajarkan dan dibimbing ke arah kebaikan dan kebenaran. Adab-adab yang harus diajarkan pada anak adalah adab kepada kedua orangtua, adab kepada para ulama, adab penghormatan, adab persaudaraan, adab bertetangga, adab meminta izin, adab makan, adab berpenampilan, dan adab mendengarkan bacaan Al-Quran. Orangtua juga perlu menanamkan kejujuran, menjaga rahasia, sikap amanah, dan menjauhi sifat iri-dengki pada anak.

 

Membentuk Perasaan Anak

       Pada bab ini, dibahas mengenai bagaimana seharusnya orangtua dapat membentuk emosi sang anak agar stabil dan seimbang. Pemberian ciuman, kelembutan, dan kasih sayang dapat menggerakkan perasaan dan emosi anak. Selain itu, hal tersebut juga dapat ikatan perasaan yang kuat antara orangtua dengan anak. Selain tiga hal tersebut, beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan emosi anak adalah: bermain dan bercanda dengan anak, memberikan hadiah untuk anak, mengusap kepala anak, menerima anak dengan baik, mencari informasi keadaan anak (sehingga anak pun merasa diperhatikan), menjaga anak perempuan dan anak yatim (karena mereka jauh lebih membutuhkan pembentukan emosi dan perasaan berupa kasih sayang, penjagaan, dan bimbingan), dan seimbang dalam mencintai anak.

 

Membentuk Jasmani Anak

       Disebutkan bahwa olahraga sangat penting dilakukan karena berdampak langsung pada tubuh, yang jika keadaannya rapuh akan merapuhkan jiwa juga. Ada empat dasar yang disebutkan untuk membangun jasmani yang kuat bagi anak. Pertama, memberikan hak olahraga bagi anak. Rasulullah sendiri menyebutkan tiga jenis olahraga secara khusus, karena manfaatnya yang tidak perlu diragukan lagi, yaitu berenang, memanah, dan berkuda. Orangtua juga dapat menggelar perlombaan olahraga untuk anak agar tidak hanya jasmani anak yang terlatih, namun juga melatih jiwa si anak. Cara berikutnya adalah melatih anak untuk bermain bersama orang dewasa. Dengan begitu, diharapkan anak tidak merasa bosan dan justru merasa suka dan cinta dengan kegiatan tersebut sehingga hal tersebut dapat menjadi asupan bagi jasmani dan rohani sekaligus. Terakhir adalah, memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain bersama teman-temannya.

 

Memelihara Kesehatan Anak

       Dalam memelihara kesehatan anak, orangtua dapat melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Membiasakan olahraga pada anak
  2. Membiasakan anak bersiwak
  3. Menjaga kebersihan kuku
  4. Mengikuti sunnah Nabi dalam makan dan minum
  5. Melatih anak tidur dengan posisi miring ke kanan
  6. Mengajari anak pengobatan alami
  7. Menjauhkan anak dari penderita penyakit menular
  8. Segera mengobati anak yang sakit
  9. Menjenguk anak yang sakit

 

Mengarahkan Kecenderungan Seksual Anak

       Islam menjaga anak-anak dengan memberinya perintah dan larangan. Hal itu dilakukan agar kecenderungan seksual anak menjadi terarah, sehingga tetap dapat menjadi pribadi yang proporsional. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah:

  1. Melatih anak meminta izin ketika masuk rumah atau kamar orangtua
  2. Membiasakan anak menundukkan pandangan dan menutup aurat
  3. Memisahkan tempat tidur anak (setidaknya dua anak tidak tidur di bawah satu selimut yang sama
  4. Melatih anak tidur dalam posisi miring ke kanan
  5. Menjauhkan anak dari berduaan dengan lawan jenis
  6. Mengajarkan kewajiban mandi janabah ketika anak mendekati masa baligh
  7. Menjelaskan perbedaan jenis kelamin dan bahaya zina ketika anak mendekati baligh
  8. Menganjurkan pernikahan dini pada anak

 

KESIMPULAN

       Jika dianalisis dengan teori perkembangan, baik kognitif dan psikososial, seluruh metode pendidikan yang disebutkan dalam buku ini sudah sesuai. Seperti misalnya pada bab mempengaruhi akal anak. Disebutkan bahwa orangtua diharapkan menggunakan bahasa yang jelas dan tidak ambigu, serta tidak melampau batas akal anak. Karena anak-anak usia dua hingga tujuh tahun masih berada pada tahap kognitif pra-operasional, dimana mereka hanya bisa memahami segala sesuatu yang sederhana dan nyata. Sementara itu, anak usia 7 hingga 12 tahun, yang berada pada tahap operasional konkrit, mulai bisa diajak membicarakan suatu hal yang agak rumit, namun tetap saja mereka masih belum bisa sepenuhnya memahami konsep abstrak.

        Buku ini juga menyebutkan pentingnya pemberian ASI dan menaruh bayi di dada ibu. Dalam psikologi, hal tersebut juga sangat dianjurkan untuk menambah keterikatan (attachment) antara ibu dan anak. Selain itu, jika dibandingkan dengan teori perkembangan psikososial, hal tersebut sangat disarankan untuk dilakukan karena akan mendorong anak untuk mencapai tugas perkembangan trust, dimana anak akan belajar untuk mempercayai orang lain.

        Dalam psikologi keluarga, dibahas mengenai perbedaan pola asuh antara anak laki-laki dan anak perempuan. Buku ini juga sedikit banyak membahas mengenai perbedaan pemberian perilaku bagi anak dengan jenis kelamin berbeda sesuai dengan gender si anak, namun tetap menekankan untuk bersikap adil pada keduanya.

       Jadi, buku ini sangat direkomendasikan bagi pasangan menikah yang ingin memiliki anak, apalagi yang beragama Islam dan memang berencana membangun keluarga yang Islami dan seimbang secara fisik dan psikologisnya. Selain itu, buku ini juga memberikan orangtua banyak pencerahan untuk membuat konsep pola asuh yang sempurna dan merupakan teladan, karena dijalankan juga oleh Rasulullah.

       Semoga review ini bermanfaat.

About alissadestine

Majoring psychology in one of university in Indonesia. Very interested in cat, dance, and movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: