RSS Feed

Hubungan Orangtua-Anak Dewasa dalam film “Because I Said So”

Sinopsis

            Film yang dibintangi oleh Diane Keaton dan Mandy Moore ini menceritakan tentang seorang ibu bernama Daphne, yang memiliki tiga orang anak perempuan yang telah tumbuh dewasa. Anak pertama dan keduanya, Maggie dan Mae, telah menemukan pendamping hidup dan menjalani pernikahan yang bahagia. Sementara itu, masalah selalu dialami oleh anak bungsunya, Milly.

            Milly belum menikah karena tidak pernah menemukan pria yang tepat dan hubungannya selalu putus di tengah jalan. Melihat hal tersebut, sang ibu tidak tinggal diam. Dia tidak ingin Milly membuat kesalahan yang sama dengan dirinya dahulu, memilih pria yang tidak tepat. Daphne pun membuat iklan tentang anaknya di sebuah situs pencarian pasangan. Dalam satu hari, Daphne bertemu dengan banyak pria dan menilai mereka secara langsung. Pada akhirnya, dia menemukan seorang pria yang dia anggap pas untuk menjadi pasangan Milly, yaitu Jason. Daphne sengaja menyusun rencana untuk mempertemukan Milly dengan Jason, dan dia berhasil.

            Di saat yang sama, Milly juga bertemu dengan Johnny, seorang gitaris yang sempat ditolak Daphne untuk menjadi pasangan Milly. Mereka berdua memiliki kecocokan dan akhirnya juga berkencan. Jadi, Milly berkencan dengan dua pria sekaligus, Jason dan Johnny. Milly masih belum menyadari bahwa pertemuannya dengan Jason memang telah direncanakan oleh ibunya. Namun pada akhirnya, Milly mengetahui hal tersebut dan dihadapkan dengan pilihan: menjadi seorang perempuan yang diinginkan ibunya, atau menjadi seorang perempuan yang dia sendiri inginkan.

            Setelah mengalami berbagai masalah di mana Milly harus berpisah dengan Johnny, Milly pun mulai memikirkan apa yang sebenarnya dia inginkan. Suatu hari saat dia sedang mengunjungi rumah orangtua Jason, dia gagal membuat kue untuk pertama kali selama hidupnya. Di situlah dia sadar, selama bersama Jason, dia tidak pernah bisa menjadi diri sendiri. Dia pun menegaskan pada Jason, apa yang selama ini disukai Jason dari dirinya adalah ibunya, karena ibunyalah yang selalu memutuskan pakaian apa yang harus dipakai dan apa yang harus dilakukan saat bersama Jason. Dan sebenarnya Jason tidak terlalu memahami diri Milly yang asli. Milly pun memutuskan untuk berpisah, dan setelah itu berusaha untuk kembali menghubungi Johnny dan kembali bersatu dengannya.

            Sementara itu, Daphne menyadari kesalahannya dan mulai berhenti  mengatur-atur Milly. Selain itu, dia juga mulai fokus terhadap keadaan dirinya sendiri yang telah ditinggal suaminya sejak lama. Pada akhirnya, Daphne tanpa sengaja jatuh cinta dengan ayah Johnny dan mereka berdua pun akhirnya menikah.

 

Analisis

           Dalam psikologi keluarga, banyak sekali hal-hal yang dibahas dalam hubungannya dengan orangtua dan anak, mulai dari pengasuhan sejak bayi hingga pada akhirnya orangtua harus melepas anaknya untuk menjadi manusia yang mandiri. Film ini akan saya analisis dengan menggunakan teori mengenai hubungan orangtua-anak yang telah tumbuh dewasa. Dalam teori ini, orangtua yang anak-anaknya telah dewasa akan berusaha untuk diperhatikan dan dirawat oleh anak-anaknya. Daphne sendiri tidak pernah berhenti menghubungi ketiga anaknya dan justru sering mengajak mereka belanja bersama dan terkadang mengunjungi mereka secara tiba-tiba. Daphne seperti tidak ingin jika harus kehilangan kontak dan perhatian dari anak-anaknya.

            Perbedaan umur yang cukup jauh juga akan mempengaruhi hubungan orangtua-anak. Orangtua cenderung suka memberi nasihat sementara si anak merasa sudah dapat berpikir dan mengambil keputusan sendiri, tanpa harus dicampuri oleh orangtuanya. Daphne masih sering merasa bahwa anak-anaknya memerlukan keputusan darinya. Sehingga dia tidak berhenti mengambil keputusan untuk anak-anaknya, terutama si bungsu Milly. Walaupun terkadang Milly bersikeras menolak permintaannya, Daphne tidak segan-segan untuk memaksa dan mempengaruhi Milly agar mau mengikuti saran dan keputusannya. Misalkan, saat memilih baju untuk dipakai kencan. Milly ingin berpakaian sesuai dengan kepribadiannya, sementara Daphne ingin membuat Milly menjadi sesuai dengan harapannya. Pada akhirnya, Milly tidak dapat menolak keinginan Daphne.

            Kenyataan bahwa Daphne telah menjadi single mother sejak anak-anaknya masih kecil, memberi pengaruh lain terhadap pola pengasuhannya. Daphne, yang berkarakter kuat dan tidak mudah menyerah, telah terbiasa untuk selalu mengurusi anak-anaknya dan hal tersebut terus berlangsung hingga anak-anaknya dewasa. Daphne sepertinya tidak dapat menerima sepenuhnya bahwa sedikit demi sedikit perannya tidak lagi dibutuhkan karena anak-anaknya telah memiliki kehidupan masing-masing. Karena Milly adalah satu-satunya anak yang belum menikah, Daphne melihat ini sebagai kesempatan terakhir untuk berperan penting dalam hidup anaknya. Hal ini jugalah yang menjadi latar belakang sikap memaksa yang dia miliki, Daphne hanya ingin yang terbaik bagi Milly walaupun bagi banyak orang hal tersebut terlihat salah.

            Dalam teori ini juga terdapat reversal parenting atau pengasuhan timbal balik, di mana orangtua lah yang akhirnya diasuh oleh anak-anak mereka yang telah dewasa. Hal tersebut tidak terlalu terlihat dalam film ini, karena Daphne masih memiliki otoritas yang besar dalam hubungan orangtua-anak yang dia jalani. Selain itu, pengasuhan terhadap diri Daphne belum terjadi karena dia masih mampu mengurusi diri sendiri walaupun sering merasa kesepian berada di rumahnya sendirian, hanya bersama anjing peliharaannya. Dari rasa kesepian tersebut, keinginan Daphne untuk bisa lebih berperan aktif dalam kehidupan anak-anaknya menjadi semakin besar.

            Jika sudah ada pengasuhan timbal balik, biasanya akan ada keadaan stress bagi si anak karena harus mengurusi orangtua sementara mereka juga sibuk dengan keluarga mereka sendiri. Di film ini hal tersebut juga tidak terlihat. Stress utama yang terlihat dalam film ini adalah di saat Daphne benar-benar berusaha mencara pasangan tepat untuk Milly, sementara Milly lebih sering menolak usahanya. Stress yang terjadi dalam film ini hanya seputar konflik antara Daphne dan anak-anaknya. Saat terjadi konflik antara Daphne dan Milly, anak pertamanya, Maggie, selalu menjadi penengah dan membantu Daphne untuk berbaikan dan terkadang Maggie juga mengingatkan Daphne bahwa Milly bukanlah anak kecil lagi dan Daphne seharusnya melepaskan Milly dan membiarkannya membuat keputusan sendiri. Hal itu sesuai dengan pembahasan mengenai orangtua yang ditinggal oleh pasangan dan memiliki anak-anak perempuan, maka anak perempuannya akan berperan penting dalam hidupnya.

            Jadi, tidak banyak pengasuhan timbal balik yang dapat dilihat dalam film ini. Namun, tokoh dalam film ini terkadang masih memperlakukan anak-anaknya seperti masih kecil dan butuh bantuannya dalam segala hal, sehingga berujung pada konflik yang memang tidak dapat dihindari dalam hubungan orangtua dengan anak yang telah dewasa. Lalu, dalam film ini diperlihatkan bahwa anak-anak perempuan bagi orangtua yang ditinggalkan pasangannya MEMANG berperan dan memberi pengaruh besar dalam hidup si orangtua.

 

Referensi

Makalah Psikologi Keluarga. Parent-Child Relationship in Adulthood and Later Years.

Pickhardt, Carl E. 2010. Parenting after the Adolescent Become Adult. http://www.psychologytoday.com (diunduh pada tanggal 9 April pukul 07.20)

About alissadestine

Majoring psychology in one of university in Indonesia. Very interested in cat, dance, and movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: