RSS Feed

Parker Wilson dalam Film Hachiko: A Dog’s Story

HHachiko: A Dog's Storyachiko: A Dog’s Story  diproduksi tahun 2009 dan dibintangi oleh Richard Gere, yang berperan sebagai Parker Wilson, seorang professor yang mengajar musik. Film ini mengisahkan tentang hubungan spesial antara seekor anjing dengan pemiliknya, di mana Hachiko memiliki kesetiaan yang sangat besar kepada Parker. Bahkan setelah Parker meninggal pun, Hachiko tetap setia menunggunya kembali di stasiun, yang terjadi selama 9 tahun.

Film ini merupakan adaptasi dari film Jepang yang berjudul Hachiko Monogatari, yang dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Shibuya (Tokyo, Jepang) pada tahun 1930-an. Bagi pecinta binatang, film ini wajib menjadi koleksi dan mampu memberikan rasa haru yang luar biasa saat menontonnya. Bahkan saya sendiri pun tidak pernah tidak menangis saat menonton kisahnya. Padahal film ini sudah saya tonton berulang-ulang.

Tujuan saya membahas film ini tidak hanya untuk menceritakan kembali jalan ceritanya, namun untuk menganalisis tokoh Parker Wilson berdasarkan teori psikologi, baik dari segi fisik, kognitif, maupun sosio-emosional. Secara fisik, Parker, yang kira-kira berumur lebih dari 50 tahun, memiliki fisik yang sempurna tanpa kelainan ataupun cacat. Sebagai seorang dewasa yang hampir mencapai tahap usia lanjut, penuaan mulai dapat dilihat pada fisiknya, seperti rambut yang mulai memutih. Selain itu, organ tubuh bagian dalam juga sudah mulai berubah dan tidak fungsional lagi. Misal, jantungnya yang justru menjadi penyebab kematiannya. Hal tersebut memang wajar terjadi pada orang-orang dewasa yang sudah cukup tua.

Selanjutnya, dilihat dari segi kognitif (berdasarkan teori kognitif Piaget), sudah pasti Parker berada pada tahapan operasional formal. Secara teoritis, pada tahapan ini, seorang manusia mulai dapat berpikir secara abstrak, melakukan penalaran logis, dan menarik kesimpulan dari data yang tersedia. Parker yang merupakan seorang professor music mampu berpikir secara abstrak, terutama jika berkaitan dengan melodi dan ritme music. Ada salah satu adegan dalam film ini yang menunjukkan kertas-kertas music yang disusun dan dibuat oleh Parker sendiri. Penalaran logis juga dilakukan Parker saat memberi ceramah materi di kelasnya. Parker membicarakan tentang seorang komponis bernama John Philip Suso dan Parker memberikan opininya sendiri terhadap sejarah komponis tersebut.

Sementara itu, dilihat dari segi sosio-emosional, saya akan menggunakan teori psikososial Erik Erikson. Usia Parker dalam film ini memang tidak pasti. Namun, diperkirakan Parker berusia antara 50-60-an tahun. Ini berarti Parker berada dalam tahap adulthood, di mana tugas perkembangannya adalah generativitas vs stagnasi.

Pada tahapan ini, seorang manusia telah mengalami kemajuan pesat dalam memperoleh pengetahuan, walaupun tidak semua pengetahuan dapat dikuasai. Parker sendiri memiliki keahlian dalam bidang music dan menjadi profesor di sebuah perguruan tinggi. Kontribusinya dalam mengajar music juga memiliki keterkaitan dengan tugas generativitas atau melahirkan sesuatu. Seperti yang saya sebutkan di atas, ada salah satu adegan yang menunjukkan kertas-kertas music yang dibuat oleh Parker. Hal itu menjadi bukti bahwa Parker masih dapat menghasilkan sesuatu dalam bidang yang dia kuasai.

Ada dua ritualisasi yang terdapat dalam tahapan perkembangan psikososial ini, yaitu generasional dan otoritisme. Generasional merupakan suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. Sementara otoritisme adalah apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Dari yang saya amati, Parker cenderung lebih mengarah pada generasional. Parker memiliki hubungan yang baik dengan putrinya dan juga suami putrinya. Selain itu, pada tahapan ini, manusia juga akan melanjutkan hidupnya dengan berfokus pada karir dan keluarga. Hal tersebut juga dapat diamati dari tokoh Parker, di mana dia tetap dapat menjalankan peran sebagai suami, ayah, dan professor dengan baik dalam waktu yang bersamaan.

Jadi, kesimpulannya adalah: dari segi fisik, Parker termasuk normal dan pertumbuhannya sesuai dengan usianya. Secara kognitif, Parker juga telah berada pada tahapan yang memang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa. Sementara, secara sosio-emosional, Parker lebih cenderung pada tugas perkembangan generativitas, dimana dia tetap aktif dalam menjalani karir dan membangun keluarga.

Yang jelas, seorang Parker memiliki rasa sayang dan kelembutan yang tidak semua orang miliki. Kisah dalam film ini akan selalu menjadi salah satu kisah terfavorit dalam hidup saya. Dan mengetahui bahwa kisah ini memang ada di dunia nyata membuat saya menjadi lebih jatuh cinta lagi pada kisah ini. Semoga kisah ini mampu mengajarkan manusia arti kasih sayang dan kesetiaan sejati. Seekor anjing saja mampu melakukan hal tersebut. Kenapa kita, manusia, tidak bisa?

About alissadestine

Majoring psychology in one of university in Indonesia. Very interested in cat, dance, and movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: