RSS Feed

Ramona, seorang Anak yang Imajinatif dalam Film ‘Ramona and Beezus’

Ramona adalah seorang anak berumur 9 tahun dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Terlahir dengan imajinasi aktif yang terkadang melampaui batas wajar yang dapat diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Walaupun cerdas, tingkah lakunya yang sangat berbeda dengan teman-teman sebayanya lebih sering dinilai nakal oleh orang-orang di sekitarnya terutama sang kakak, Beezus.

Ramona lebih bisa mengekspresikan diri dibandingkan dengan kakaknya. Dia juga mampu bertanggung jawab atas hal-hal yang berhubungan dengan adiknya, misalkan menyuapi makan dan menjaga sang adik saat bermain. Dalam film ini, kita bisa melihat bahwa Ramona agak sedikit dibayang-bayangi oleh kakaknya, Beezus, yang patuh dan berprestasi. Hal tersebut menjadikannya berusaha keras untuk menunjukkan jati dirinya dengan caranya sendiri walaupun tidak selalu berhasil.

Analisis yang akan saya tulis di sini adalah mengenai perkembangan sosioemosional Ramona. Dalam kehidupannya sehari-hari, Ramona tidak jarang mengalami konflik dengan teman, guru, dan kakak perempuannya. Walaupun hal tersebut terlihat rumit, namun sebenarnya dapat membantu perkembangan sosioemosional seorang anak yang berada dalam masa kanak-kanak tengah (middle childhood) seperti Ramona.

Menurut teori psikososial Erik Erikson, masa kanak-kanak tengah masuk dalam fase latency, di mana merupakan masa perkembangan sosial besar-besaran. Krisis dalam tahapan ini adalah produktivitas (industry) versus inferioritas (inferiority). Ramona selalu berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya bukan anak yang nakal, melainkan kreatif dan berhak dihargai. Dia selalu berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang telah dia buat, baik disengaja maupun tidak. Saat dia merusak banyak barang, dia memutuskan untuk mencari uang sendiri agar mampu mengganti barang-barang tersebut. Dia berusaha menjual minuman, membuka usaha cuci mobil, dan memberi jasa potong rumput. Selain itu, Ramona memang mengalami rasa bersalah dan malu di saat-saat tertentu dan dia merasa inferior, namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena dengan kreatifitasnya dia dapat menemukan jalan keluar untuk mengalihkan perasaan-perasaan tersebut. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Ramona mendapatkan produktivitas, bukan inferioritas.

Analisis berdasarkan tugas perkembangan sosial dan emosi :

-Pemahaman dan pengaturan emosi meningkat

Ramona dapat mengerti saat-saat ketika dia merasa marah, sedih, ataupun takut. Namun, dia tidak tenggelam dalam emosi yang dia rasakan. Dia justru mencari cara untuk mengatur dan mengalihkan emosinya kepada hal lain. Seperti saat dia merasa bersalah dan marah pada dirinya sendiri karena telah membuat kekacauan, dia justru pergi ke atas pohon untuk merenung dan menceritakan semua perasaannya kepada bibinya.

-Memahami perbedaan rasa bersalah dan malu dengan lebih baik

Ramona dapat membedakan rasa bersalah dan malu. Saat dia merasa malu, dia akan berusaha untuk menghindari hal-hal yang berhubungan dengan rasa malunya. Sementara itu, saat dia merasa bersalah, dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Jadi, respon yang berbeda tersebut merupakan bukti bahwa Ramona paham yang mana yang rasa malu dan yang mana yang rasa bersalah, dan dia mampu memberikan respon yang tepat serta sesuai untuk dirinya dan orang lain.

-Membagi pengaturan perilaku dengan orang tua

Ramona dan kedua orang tuanya memiliki hubungan yang akrab dikarenakan pola asuh otoritatif yang diberikan orang tuanya. Dengan pola asuh seperti itu, orang tua dan anak dapat lebih mudah membuat perjanjian mengenai tata tertib dan aturan sikap dalam keluarga. Begitu juga halnya dengan Ramona. Dalam keluarganya, orang tua memberi peraturan dan si anak dapat memberi usul dan saran kepada si orang tua namun tetap bersikap patuh.

-Konflik dengan saudrara kandung membantu perkembangan keterampilan untuk resolusi konflik

Beezus menganggap bahwa adiknya bermasalah dan nakal. Sehingga ada satu waktu di mana Beezus kehilangan kesabaran dan kendali emosi, kemudian mengatakan bahwa Ramona adalah seorang pengacau yang seharusnya menjauh darinya. Hal tersebut membuat Ramona berpikir dan memutuskan untuk menyelesaikan konflik dengan cara pergi dari rumah. Walaupun keputusan yang diambil Ramona bukanlah sesuatu yang benar, namun setidaknya Ramona telah berusaha untuk mencari jalan keluar atau resolusi konflik yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri.

-Persahabatan jadi makin intim

Ramona memiliki seorang sahabat laki-laki yang selalu menjadi tempat berbagi cerita. Kesediaan Ramona untuk menceritakan keluh kesahnya kepada sang sahabat dapat menjadi bukti bahwa hubungan pertemanan mereka sudah semakin dekat dan intim.

Persahabatan Ramona juga dapat dilihat dari hubungannya dengan Beezus. Walaupun Beezus adalah kakak kandungnya, namun Beezus juga sering berperan sebagai seorang sahabat untuk Ramona dan hubungan mereka sangat dekat satu sama lain. Beezus akan selalu memberi kata-kata motivasi dan pelukan-pelukan kasih sayang kepada Ramona saat Ramona membutuhkannya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosioemosional Ramona yang berumur 9 tahun sesuai dengan tugas tahapan perkembangan masa kanak-kanak tengah & akhir. Selain itu, berdasarkan teori Erikson, Ramona mencapai industry atau produktivitas yang memang seharusnya dicapai pada usia tersebut.

About alissadestine

Majoring psychology in one of university in Indonesia. Very interested in cat, dance, and movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: