RSS Feed

Pergaulan Teman Sebaya, Salah Satu Masalah Krusial dalam Perkembangan Remaja

            Masa remaja memang merupakan masa yang sangat rentan. Remaja, yang sebagian besar masih labil, harus mulai belajar untuk melakukan segala sesuatu sendiri namun mereka juga tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari otoritas orang-orang yang lebih tua dan “sudah banyak makan asam garam”. Masa-masa tersebut dapat menjadi masa terkelam bagi sebagian orang, namun tidak sedikit juga yang merasakan masa keemasan pada saat remaja.

            Banyak sekali hal yang terkait dalam perkembangan manusia, semenjak bayi hingga menjadi lanjut usia. Dalam perkembangan remaja sendiri, peer group (teman sebaya) menjadi salah satu poin penting.  Remaja yang terkadang merasa bingung dengan dirinya sendiri dan menganggap bahwa orang tua tidak pernah mengerti mereka, akan mencari alternative rasa aman dan nyaman pada peer group yang menurut mereka jauh lebih memahami apa yang mereka rasakan. Tidak jarang remaja justru lebih percaya kepada teman sebayanya daripada keluarganya sendiri, terutama orang tua.

            Remaja biasanya berpikir abstrak dan idealistik. Mereka sedang menghadapi masa dimana real self harus berbenturan dengan ideal self. Remaja cenderung berusaha keras untuk menampilkan ideal self mereka, walaupun terkadang tidak sesuai dengan apa yang mereka miliki. Saat remaja berhasil bergabung dalam sebuah kelompok teman sebaya yang sekiranya sesuai dengan konsep idealnya, maka sudah pasti mereka akan tetap mempertahankan posisi mereka dalam kelompok tersebut..

            Menurut Erik Erikson, pergaulan remaja merupakan salah satu faktor dalam pembentukan identitas. Pada hakikatnya, hubungan teman sebaya mampu meningkatkan hubungan sosial remaja. Dalam kelompok teman sebayalah, remaja mendapatkan dukungan dan perhatian yang mereka inginkan. Persamaan umur menjadikan mereka lebih bisa menerima pendapat satu sama lain dan mereka memiliki perspektif yang hampir sama.

            Elkind, dalam teorinya menyebutkan beberapa karakteristik yang biasanya dimiliki oleh remaja. Mereka cenderung ragu-ragu (indecisiveness), dan teman sebaya akan memberi dukungan pada mereka dalam menentukan pilihan, bahkan hanya untuk hal-hal sepele seperti memilih baju. Remaja akan cenderung lebih percaya pada teman sebayanya dibandingkan pada orangtuanya sendiri, karena karakteristik mereka yang suka menemukan kesalahan-kesalahan pada figure orangtua. Mereka seakan-akan menetapkan bahwa kesalahan-kesalahan orangtua mereka melegalkan mereka untuk tidak lagi terlalu percaya dan menurut pada orangtua mereka karena toh orangtua juga memiliki kesalahan dan tidak pantas untuk dipercaya sepenuhnya. Selain itu, kelompok teman sebaya juga sesuai dengan karakteristik self-consciousness remaja. Mereka selalu berpikir bahwa orang lain pasti setuju dengan pendapat dan apa yang ada di pikiran mereka. Dan memang itulah yang terjadi dalam sebuah kelompok teman sebaya. Kebanyakan mereka akan saling menerima pendapat satu sama lain, sehingga remaja akan lebih merasa nyaman bersama teman sebayanya.

            Memang tidak ada yang salah dalam pergaulan teman sebaya. Namun, permasalahannya adalah, jika kelompok teman sebaya remaja tersebut memiliki sisi negative yang cukup besar, maka remaja tersebut akan terpengaruh. Mau tidak mau mereka harus menerima dan terkadang justru mengikuti sisi negative itu juga karena hal tersebut menjadi salah satu syarat untuk bisa tetap berada dalam kelompok. Tidak sedikit remaja yang terpengaruh teman sebayanya, entah dalam pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang, minuman keras, judi, dan lain-lain. Mereka tidak ragu-ragu melakukan apa yang teman kelompok mereka lakukan, hanya karena ingin diterima. Hal tersebut kembali lagi dihubungkan dengan kecenderungan remaja dalam berpikir bahwa tidak ada yang memahami mereka kecuali teman-teman sebaya mereka. Mereka lebih nyaman dan aman dengan adanya pemikiran bahwa tidak hanya diri mereka sendiri yang merasakan, namun ada juga orang lain yang merasakan. Sehingga mereka akan berusaha untuk tetap berada dalam kelompok teman sebaya, zona nyaman mereka.

             Jika berbicara mengenai pergaulan remaja, orangtua memegang peranan yang sangat penting. Walaupun remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-temannya daripada dengan keluarga, namun orangtua tetap wajib untuk mengawasi dan mengarahkan. Orangtua sebaiknya tidak cuek dan berusaha untuk mendekatkan diri dengan anak remaja mereka. Malah akan lebih baik lagi jika orangtua bisa menjadi tempat curahan hati dan tempat berbagi cerita. Dengan begitu, remaja tidak lagi sepenuhnya menganggap bahwa figure orangtua itu tidak dapat dipercaya dan  tidak memahami mereka. Dan jika orangtua dapat mengetahui apa yang dirasakan dan yang terjadi pada anak remaja mereka, maka mereka akan lebih mudah mengawasi dan lebih peka terhadap perasaan serta cara berpikir mereka sehingga jika ada sesuatu yang terlihat berbeda atau janggal, orangtua bisa langsung mengetahui dan melakukan tindakan pencegahan.

             Jadi, pergaulan teman sebaya menjadi salah satu hal paling krusial dalam perkembangan remaja karena dapat memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan identitas remaja tersebut, baik positif maupun negative. Namun, selama orangtua mau peduli dan tetap mengawasi mereka, pengaruh negative dapat dicegah, dan remaja dapat menjalani tahapan perkembangan yang lebih baik dan cerah.

About alissadestine

Majoring psychology in one of university in Indonesia. Very interested in cat, dance, and movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: